Sunday, October 17, 2021
Home Life Style Kontroversi "Childfree", BKKBN: Tidak Punya Anak Bukan Berarti Bebas Risiko

Kontroversi “Childfree”, BKKBN: Tidak Punya Anak Bukan Berarti Bebas Risiko

BusinessNews Indonesia Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menanggapi kontroversi terkait pilihan hidup menjalani childfree – menikah tapi memilih tidak punya anak – tak berarti bebas dari risiko. Baik biologis maupun psikologis, terutama bagi wanita.

“Seberapa kita mau memenuhi hak kita, tetap perlu diimbangi dengan seberapa dalam kita mempertimbangkan dan memutuskan hak tersebut dengan sudah tahu konsekuensi dan plus-minusnya,” kata dr. Hasto kepada media, Minggu, (05/09/2021).

Memang setiap orang mempunyai hak bebas menentukan nasibnya sendiri, namun itu harus dipikirkan matang-matang dari berbagai sisinya. Agar dikemudian hari tak menyesal dengan masalah-masalah yang timbul.

“Jangan hanya karena kita bebas menentukan, tapi tidak mengetahui risikonya. Banyaklah membaca, karena lebih baik tahu duluan sebelum mengambil keputusan,” ujarnya menambahkan.

Dari sisi biologis, dr. Hasto mengatakan kebanyakan para wanita yang mengidap tumor dan kangker rahim, adalah mereka yang tidak memiliki anak atau yang memiliki hanya satu orang anak.

Mengutip laman Cancer.org, kanker rahim dapat menyerang wanita tanpa memandang usia, namun lebih sering menyerang mereka yang tidak pernah memiliki anak, atau mereka yang memiliki anak pertama setelah usia 35 tahun.

“Mereka yang mengidap tumor rahim, (risiko) lebih cenderung meningkat pada mereka yang nuliparitas (tidak punya anak, atau punya anak satu),” kata dr. Hasto.

Pun dengan tumor dan kanker payudara. dr. Hasto mengatakan, tumor dan kanker payudara cenderung banyak menyerang wanita yang tidak menyusui.

Mengutip laman Cancer Center, wanita yang belum memiliki anak, atau yang memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun, mungkin memiliki peluang sedikit lebih tinggi terkena kanker payudara. Itu karena jaringan payudara terpapar lebih banyak estrogen untuk jangka waktu yang lebih lama.

Selain itu, ada juga kista endrometrosis, di mana sekitar 30-50 persen wanita yang mengalami endometriosis biasanya juga mengalami gangguan kesuburan atau infertilitas.

Meski endometriosis dapat mengganggu kesuburan, ada beberapa solusi yang mungkin bisa dijalani pasien agar bisa hamil, tergantung pada usia dan tingkat keparahan endometriosisnya.

Baca juga: Perkuat Literasi Keuangan, BSI Kenalkan Perbankan Syariah ke Mahasiswa Unpad

“Oleh karena itu, jangan anggap kalau tidak punya anak itu bebas dari risiko. Pengetahuan kesehatan reproduksi perlu dibangun, terlebih karena perempuan siklusnya jalan terus; setiap bulan telurnya kecil, membesar, kemudian pecah dan menstruasi,” kata dr. Hasto.

Baca juga: PT PIL Siap Bantu Pertamina Siapkan Unit Pertashop

“Ketika wanita pernah hamil, siklus itu disetop selama 9 bulan, dan itu ada baiknya–mengistirahatkan rahim dari putaran siklus hormon itu,” ujar mantan Bupati Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta tersebut menambahkan.

Perkaya Pengetahuan Sebelum Memutuskan

Lebih lanjut, dr. Hasto mengatakan bahwa penting bagi wanita yang memutuskan childfree untuk memperkaya wawasan terkait dampak dan risiko bagi tubuhnya.

“Seandainya mereka ingin childfree dan tahu risikonya dan kontrol secara baik, seperti misalnya payudara dikontrol secara rutin, rahimnya di-scanning secara periodik dari penyakit-penyakit yang biasanya datang kepada mereka yang tidak hamil, itu berarti baik karena dilakukan dengan rutin,” kata dia.

“Hal-hal seperti itu perlu sebagai imbangan pendapat childfree karena terpengaruh oleh emosional, tapi kemudian tidak tahu risiko-risikonya. Itu perlu diingatkan,” imbuh pria lulusan Fakultas Kedokteran UGM itu.

Ia juga mengusulkan bagi pasangan yang masih muda, sehat, dan mampu, untuk melakukan adopsi anak.

Baca juga: PNM Dapat Pembiayaan Perumahan Rp2 triliun dari SMF

“Usul saya, kalau mereka sehat dan mampu, mungkin bisa adopsi (anak). Karena banyak dari masyarakat yang anaknya banyak tapi tidak mampu (memenuhi kebutuhan). Kalau punya rezeki, silahkan,” ujarnya. (Ed.AS/businessnews.co.id/AN).

Baca juga: Presiden IPC Andrew Parsons Resmi Tututup Paralimpiade Tokyo 2020

Baca ja juga: Indonesia Jadi Anggota Dewan Pos Dunia

Most Popular