Saya akan berfokus pada kasus pengusiran Kristen Gray. Kristen Gray only! Saya tidak akan mengurusi Sergey Kasenko, atau bule bermasalah lainnya. Ceritanya begini, ada orang Kulit Hitam Amerika yang dideportasi dari Bali. Namanya Kristen Gray. Ia dideportasi dengan tuduhan:
- Mengundang turis asing datang untuk long stay di Indonesia semasa pandemi.
- Menyebut Bali sebagai surga yang ramah LGBT.
- Mencari nafkah di Indonesia tanpa membayar pajak.
- Dan terakhir adalah overstay.
Empat kejahatan itu kalau ditulis demikian kedengaran sungguh seperti si Amrik busuk, sedang berusaha menjajah Indonesia melalui neo-liberalisme or whatever it is. Netizen pun dengan sangat bersemangat menghakimi si penjajah, dan semua bersorak gembira setelah dia dan kekasihnya diusir!
Auranya seperti sekelompok pejuang kemerdekaan yang bersorak saat memenangkan pertempuran super sengit yang penuh darah. Meme-meme bernada perjuangan betebaran di media sosial, dan yang dibawah ini adalah favorit saya.

Baca juga: Negara-negara Ini Dihukum Pasar Karena Covid-19 tak Terkendali
Well, ini reaksi yang wajar mengingat betapa banyaknya bule-bule Bali-Lombok yang menyalahgunakan izin tinggal mereka untuk melakukan eksploitasi tanpa memberi kontribusi pada Indonesia. (Saya menyaksikannya dengan mata kepala saya sendiri).
Sebutlah si Riviera dari Lombok. Dia datang ke Indonesia sebagai turis, kemudian menjalankan bisnis kecil-kecilan di Lombok. Mulai dari jadi calo jual beli tanah, calo penyewaan resort (semasa belum populernya agoda dan traveloka), kemudian membangun resort sendiri dengan meminjam nama warga lokal (praktek umum ini). Tapi kemudian dia ditangkap imigrasi, nyaris dideportasi.
Kemudian dia bayar denda dia dibisiki oknum imigrasi untuk menikahi gadis lokal, dan setelah menikah dia urus kewarga negaraan Indonesia, kemudian cerai dengan hak asuh anak.
Dia gunakan anaknya untuk bemper kalau berurusan dengan petugas hukum (Berlindung di balik kemanusiaan). Setelah itu dia semakin meraja rela di Lombok, dengan membuka lebih banyak resort yang accounntnya ditaruh di bank di Australia.
Jadi kalau ada orang mau nginap di tempatnya semua akomodasi diluar tiket pesawat dibayarkan ke bank di Australia, yang otomatis artinya bebas pajak Indonesia. Disini dia hanya menampilkan wajah polos sebagai turis long stay yang mengandalkan hidup dari pengiriman uang dari luar negri.
Tamu-tamu yang datang dia sebut sebagai kawan-kawannya dari Australia yang menginap di tempatnya. Dengan pat-pat dulipat dengan oknum aparat dia berhasil lolos dari jeratan pajak.
Kisah si River ini bukan cuma satu tapi banyaaaaak sekali. Teresebar terutama di Bali, Lombok, dan Krui, serta pusat pariwisata lainnya.
Lain lagi kisah turis gembel. Yang datang kemari bermodalkan tiket pesawat dan biaya hidup beberapa hari, kemudian untuk selanjutnya mereka akan mengemis.
Baca juga: Akhirnya Jack Ma Muncul Pertama Kali Sejak Oktober Lalu
Baca juga: Ministry of Religion Prepares Hajj Dormitory to Be Covid Isolation Place
Baca juga: Tepati Janji, Luhur Hibahkan Tanah Pada PBNU
Ada juga parasit yang lebih canggih, yang merupakan jaringan mafia turis dari RRC. Berbeda dengan para bule, mereka ini sangat bermodal. Mereka berani membuka toko di Indonesia (biasanya tersembunyi), kemudian bekerja sama dengan travel agent dari RRC untuk mendatangkan turis ke toko mereka. Per kepala mereka hargai 40 dollar.
Akibatnya para travel agent berani berspekulasi dengan memberi diskon gila-gilaan untuk promo Bali (US$.1000 untuk satu minggu stay, termasuk makan dan tour di hotel berbintang sounds good?).
kemudian si travel mengadakan program tur keliling merchant–merchant RRC di Bali. Kalau terjadi belanja maka pembayaran dilakukan melalui wechatpay yang ada di China. Sedikitpun uang tidak masuk ke Indonesia.
Inilah para turis parasit di Indonesia (khusus yang terakhir, sudah di tertibkan dan diganti WeChat yang dibayar ke Bank di Indonesia).
Tapi saya melihat ada yang berbeda dari kasus Kristen Gray ini. Apa salahnya dia?
Menyebut Bali Ramah LGBT?
Well, Bali ramah terhadap semuanya dan semua tahu itu. Dan itulah poinnya menjadi destinasi wisata unggulan. Harus bisa menerima segala perbedaan. Bukannya memberi respon macam ini.
Uraian selanjutnya, bisa klik di bawah ini.
Baca Juga: Seberapa Merusakkan Kristen Grey? (Part 2)
Baca juga: Seberapa Merusakkan Kristen Grey? (Part 3)
——————————————————————————————————————–
Opini oleh: William Win Yang (Pengamat Ekonomi, Politik, Sosial dan Pengarang buku Secrets of The Dragon, Dragon Slayer Strategy, How to be a Taipan)
Comments are closed.