Monday, April 19, 2021
Home Economy IHSG Diproyeksi Menguat Pada Perdagangan Hari Ini

IHSG Diproyeksi Menguat Pada Perdagangan Hari Ini

BusinessNews Indonesia – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksi cenderung menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (25/2). Setelah pada perdagangan kemarin (24/2) terkoreksi wajar.

Pada perdagangan kemarin IHSG terkoreksi 0,35 persen atau 21,75 poin ke level 6.251,05. Pelemahan tersebut dipimpin saham-saham sektor Industri Dasar, Pertambangan dan Aneka Industri yang masing-masing turun 2,22 persen, 1,65 persen, dan 1,3 persen.

Dikutip dari Bisnis.com, pelemahan terjadi karena parainvestor melakukan realisasi keuntungan jangka pendek setelah saham-saham pada sektor tersebut mengalami penguatan.

Lanjar Nafi Taulat, Kepala Riset Teknikal Reliance Sekuritas, menerangkan bahwa fenomena bank-bank di bawah BUKU 2 yang terus bersaing untuk memperbaiki asetnya setelah batasan KBMI dinaikkan turut memacu antusias investor pada aksi korporasi yang diprediksi akan terjadi.

Seperti diketahui, Saham BANK  yang naik 21.4 persen, ARTO 3.7 persen, AGRO 2.8 persen dan MEGA 3.8 persen memimpin pergerakan pada sektor perbankan. Di samping itu, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih sebesar Rp 302,20 miliar sampai penutupan sesi perdagangan.

“Secara teknikal IHSG pulled back upper bollinger bands, tetapi pelemahannya masih tertahan pada support rata-rata 5 hari di level 6242. Pergerakan Ini memberikan indikasi yang masih cukup positif meskipun terjadi koreksi pada perdagangan sebelumnya,” ungkapnya, dikutip dari Bisnis.com,(25/2).

Lanjar memperkirakan secara teknikal IHSG masih akan bergerak terkonsolidasi dengan potensi menguat dengan support resistance 6193-6323. Dengan saham-saham yang dapat dicermati secara teknikal diantaranya; AALI, ADRO, AGII, BBNI, BMRI, BSDE, ICBP, MNCN, WIKA, WSKT.

Berdasrakan pemantauan, secara mayoritas indeks saham Asia ditutup melemah dimana Indeks Nikkei melemah 1.61 persen, TOPIX  melemah 1.82 persen, HangSeng melemah 2.99 persen dan CSI300  yang melemah sebesar 2.55 persen.

Pelemahan tersebut terjadi setelah pemerintah Hongkong berencana menaikan pajak perdagangan. Investor menjadikan penguatan yield obligasi sebagai alasan melakukan aksi profit tarling yang menjadi alasan pelemahan. (W/ZA)

Most Popular