Ekonomi China Membaik Bawa Angin Segar Saham TINS
Ekonomi China Membaik Bawa Angin Segar Saham TINS

BusinessNews Indonesia – PT Timah Tbk (TINS) mendapat angin segar atas pergerakan penguatan harga komoditas timah global. Hal ini dapat membuka harapan baru untuk meningkatkan kinerja bisnis perusahaan hingga akhir 2020.

Saham-saham komoditas akhir-akhir ini mendapat sorotan setelah Lo Kheng Hong, investor kawakan tanah air, membeberkan bahwa mendapat imbal hasil yang cukup besar atas kenaikan harga saham sektor komoditas yang melonjak cukup tajam. Salah satu saham favorit Lo yaitu PT Timah Tbk. (TINS) bersama dengan saham komoditas lainnya seperti PT Indika Energy Tbk. (INDY) sampai saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP).

Menurutnya, sektor saham komoditas memiliki prospek besar karena lebih cepat pulih setelah keadaan normal jika dibandingkan sektor lain.

Berdasarkan data  Bloomberg yang di rilis tanggal 29 Oktober 2020, harga timah mengalami peningkatan 6,37 persen secara year to day di London Metal Exchange (LME) yang berada di kisaran US$ 18.270 per ton. Harga ini merupakan kenaikan yang cukup signifikan jika dibanding pertengahan Maret lalu yang berada di kisaran level US$ 13.000 per ton sebagai akibat resesi.

Berdasarkan pada laporan keuangan paruh pertama 2020, TINS masih catatkan rugi bersih Rp 390 miliar padahal pada periode sama di tahun sebelumnya TINS mencatatkan laba bersih Rp 205,29 miliar. Hal ini terjadi karena penurunan pendapatan sebesar 18,48 persen dari tahun sebelumnya.

Ellen May dari Ellen May Institute (EMI) memaparkan bahwa perekonomian China yang membaik menjadi faktor yang meningkatkan impor timah rafinasi. Melalui riset ini, disebutkan penyebab kerugian TINS karena penurunan harga timah radiasi sebesar 23 persen dan beban bunga yang  lebih tinggi sebesar 17 persen dari tahun lalu.

Berdasar data yang di publikasikan China Custom, sejauh ini China telah mengimpor timah radiasi sebesar 3.674 metrik ton pada Mei lalu. Angka ini naik sebesar 1,76 persen secara yoy atau tertinggi sejak Maret 2012. Mayoritas impor berasal dari Indonesia sebesar 2.586 metrik ton.

β€œHal tersebut akan memperkuat harga timah dunia dan berpotensi memperbaiki ASP TINS di semester II 2020,” sebut Ellen May (28/10). (W/ZA)