Jakarta, Businessnews.co.id – Boris Johnson pada Kamis (7/7/2022) menyatakan mundur sebagai pemimpin Konservatif dan akan mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Inggris ketika pemimpin baru ditemukan. Johnson mengikuti seruan dari rekan-rekan menteri dan anggota parlemen di Partai Konservatif.
“Proses pemilihan pemimpin baru harus dimulai sekarang,” kata Johnson di pintu Downing Street Nomor 10.
“Dan hari ini saya telah menunjuk sebuah kabinet untuk menjalankan tugas sampai pemimpin baru menjabat,” ujarnya, dikutip dari Reuters.
Sebelum membuat keputusan itu, Boris Johnson bersikeras untuk tetap memegang kekuasaan sebagai PM Inggris meski empat orang menteri papan atas mengundurkan diri. Sementara jaksa agung menyatakan harapannya agar Johnson mundur dan mengakui bahwa ia juga menginginkan jabatan PM Inggris.
Lebih dari 50 orang menteri telah mengundurkan diri dalam kurang dari 48 jam, dan mengatakan bahwa Johnson tidak layak untuk memimpin usai dilanda sejumlah skandal.
Puluhan politisi di Partai Konservatif melakukan pemberontakan secara terbuka.
Setelah itu, Sekretaris Irlandia Utara Brandon Lewis menjadi menteri kabinet terbaru yang mengundurkan diri pada Kamis pagi, menyusul pengunduran diri dari para menteri keuangan, kesehatan, dan negara bagian Wales.
Sekadar informasi, sebelumnya perdana menteri yang memilih untuk mundur biasanya tetap menjabat sampai penggantinya ditemukan. Hal ini berarti Johnson akan tetap menjabat sampai Konservatif memilih pemimpin baru, seperti yang dilakukan pendahulunya Theresa May dan David Cameron ketika mereka mengundurkan diri.
Diusulkan prosesnya bisa berlangsung hingga Oktober, meski bisa lebih singkat seperti penggantian Theresa May sebagai pemimpin hanya memakan waktu dua bulan.
Dikutip dari BBC, Mantan Perdana Menteri Konservatif Sir John Major mengatakan “tidak bijaksana” bagi Johnson untuk tetap menjabat selama tiga bulan.
Baca Juga: Gila! Kementerian Pertahanan Inggris menghabiskan Rp. 45 Trilyun untuk tank yang tidak bisa menembak


Comments are closed.