Ilustrasi harga minyak mentah dunia merosot ke level terendah dalam dua pekan ini (foto:antaranews/ardika)

BusinessNews Indonesia – Memanasnya perang dagang Amerika Serikat-Cina menggerus kepercayaan terhadap perekonomian global sehingga menyeret harga minyak mentah jatuh pada posisi terendah dalam dua pekan ini dalam  perdagangan awal pekan, Senin (26/8/2019).

Seperti dirilis Reuters Harga minyak mentah Brent, mengalami penyusutan 89 sen atau setara merosot hingga 1,5% menjadi US$58,45 per barel pada pukul 00.44 GMT, setelah sebelumnya menyentuh posisi US$58,24 atau terendah sejak 15 Agustus. Sedangkan minyak AS ambruk usai kehilangan US$1 atau 1,8% untuk berada di posisi US$53,17 barel sebelumnya jatuh ke US$52,96 atau terendah sejak 9 Agustus.

Kejatuhan harga minyak kebanyakan dipengaruhi oleh kekhawatiran tentang penurunan ekonomi global yang bahkan berpotensi resesi pada AS. Hal ini disampaikan oleh Stephen Innes, selaku Managing Partner di Valour Markets. Kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi kembali mencuat setelah Amerika Serikat dan Cina berencana saling menerapkan tarif bea impor tinggi.

Sebelumnya Kementerian Perdagangan Cina mengatakan akhir pekan lalu akan memberlakukan tarif tambahan 5% atau 10% terhadap total 5.078 produk yang berasal dari Amerika Serikat. Termasuk di antaranya minyak mentah, produk pertanian seperti kedelai, dan pesawat kecil. Sebagai balasan, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia berpesan kepada perusahaan AS untuk mencari cara agar menutup operasional di China dan membuat produk di Amerika Serikat.

Sementara Ketua Federal Reserve Amerika Serikat Jerome Powell memaparkan sebuah simposium ekonomi tahunan di Jackson Hole, Wyoming yang menerangkan bahwa ekonomi AS berada di “tempat yang menguntungkan” dan Federal Reserve akan “bertindak seefisien mungkin” untuk menjaga ekspansi ekonomi saat ini. Pernyataan tersebut memberikan sedikit petunjuk mengenai apakah bank sentral akan memangkas suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Memperburuk kekhawatiran atas kemungkinan resesi yang bakal menimpa Negeri Paman Sam, industri manufaktur AS mengalami kontraksi dalam hampir satu dekade. Perusahaan energi AS minggu ini memotong rig minyak yang paling dalam sekitar empat bulan, dengan jumlah rig jatuh ke posisi terendah sejak 2018 Januari, saat produsen memotong pengeluaran untuk pengeboran baru dan completions. (spm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here