Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

BusinessNews Indonesia – Seperti berbalas pantun, ancaman Amerika Serikat (AS) untuk menerapkan sejumlah tarif baru pada produk Cina dibalas Negeri Panda dengan memerintahkan agar perusahaan-perusahaan tidak membeli produk agrikultur dari AS.

Suasana yang makin memanas ini membuat saham-saham di hampir seluruh bursa utama Asia seperti “terpanggang.”

Pekan ini terbukti menjadi pekan yang sulit bagi pasar saham Tanah Air. Pascaanjlok 2,59% pada perdagangan Senin kemarin (5/8/2019), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 1,14% pada perdagangan hari ini ke level 6.105,09.

Pada pukul 09:30 WIB, Selasa ini, IHSG sudah memperlebar kekalahannya menjadi 1,81% ke level 6.063,83.

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang ditransaksikan di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei ambruk 1,9%, indeks Shanghai anjlok 1,94%, indeks Hang Seng jatuh 2,43%, indeks Straits Times terkoreksi 1,42%, dan indeks Kospi terpangkas 1,39%.

Perang dagang AS-Cina yang kian memanas menjadi faktor yang melandasi aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Pada hari ini, China mengumumkan balasan terkait dengan bea masuk baru yang akan dieksekusi oleh AS pada awal September mendatang dengan mengonfirmasi pemberitaan bahwa perusahaan-perusahaan asal China akan berhenti membeli produk agrikultur asal AS.

Melansir CNBC International, CNBC Indonesia menuliskan bahwa seorang juru bicara untuk Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan asal Negeri Panda telah berhenti membeli produk agrikultur asal AS sebagai respons dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan bea masuk baru yang menyasar produk impor asal China senilai US$ 300 miliar.

Selain itu, Kementerian Perdagangan China juga membuka kemungkinan untuk mengenakan bea masuk baru bagi produk agrikultur asal AS yang sudah terlanjut dipesan setelah tanggal 3 Agustus.

Seperti yang diketahui, pada hari Kamis (1/8/2019) Trump mengumumkan bahwa AS akan mengenakan bea masuk baru senilai 10% bagi produk impor asal Cina senilai US$ 300 miliar yang hingga kini belum terdampak perang dagang. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada tanggal 1 September. Kacaunya lagi, Trump menyebut bahwa bea masuk baru tersebut bisa dinaikkan hingga menjadi di atas 25%.

“AS akan mulai, pada tanggal 1 September, mengenakan bea masuk tambahan dengan besaran yang kecil yakni 10% terhadap sisa produk impor asal Cina senilai US$ 300 miliar yang masuk ke negara kita,” cuit Trump melalui akun @realDonaldTrump.

Pengumuman dari Trump ini datang pasca dirinya melakukan rapat dengan Menteri keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer terkait dengan hasil negosiasi di Shanghai pada pekan kemarin.

Belakangan, terungkap bahwa Trump kini sudah ‘membabi-buta’ jika berbicara mengenai Cina. Melansir CNBC International yang mengutip pemberitaan Wall Street Journal, ternyata keputusan dari Trump tersebut ditentang oleh para pejabat Gedung Putih lainnya.

Keputusan Trump yang sekaligus mengakhiri gencatan senjata yang disepakati dengan Presiden Cina Xi Jinping pada akhir Juni pada awalnya tak disetujui oleh nyaris seluruh penasihatnya, termasuk oleh Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow.

Namun, Trump dikabarkan tetap kekeh untuk kembali meluncurkan serangan terhadap China. Para penasihatnya pun pada akhirnya ikut membantu Trump untuk menulis cuitan yang berisi pengumuman bahwa gencatan senjata antara AS dan China akan diakhiri.

Kala perang dagang AS-Cina tereskalasi, bisa dipastikan bahwa laju perekonomian dunia akan mendapatkan tekanan yang signifikan. Maklum, AS dan Cina merupakan dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di planet bumi. (spm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here